Selasa, 07 Januari 2014

Islam dan Kebahagiaan



BAB I
PENDAHULUAN
Kebahagiaan hidup merupakan sesuatu yang pasti menjadi cita–cita semua orang dalam hidupnya. Kebahagiaan itu dapat berupa keberhasilan seseorang dalam menjalankan tugas dan kewajiban yang dimiliki dengan baik serta benar maupun keberhasilan dalam menghindari penderitaan (musibah). Kebahagiaan seseorang dapat ia raih dari kemampuan dan tidaknya orang tersebut memenuhi kebutuhan keinginannya (dalam bentuk positif), berangkat dari kata hatinya yang tulus dan murni.
Kebahagiaan sesorang dapat berbeda-beda bentuk yang diinginkannya antara satu orang dengan orang yang lainnya. Karena bahagia bisa dikatkan relatif dan hal itu diakibatkan oleh adanya perbedaan persepsi, filosofi hidup, dan  prinsip hidup masing-masing orang. Akan tetapi, semua orang akan sepakat bahwa kebahgiaan adalah ketika ia mendapatkan apa-apa yang ia inginkan baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu muncul sebuah kata-kata plesetan “kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”.
Rumusan masalah
Pada makalah ini kurang lebih nantinya akan dibahas mengenai identifikasi masalah dari hakikat kebahagiaan itu sendiri, dan berbagai masalah yang ada dalam usaha sesorang mencapai kebahagiaan dan berbagai jenis kebahagiaan dari beberapa sudut pandang.
1.      Apa itu kebahagiaan?
2.      Bagaimanakah makna kebahagiaan menurut para ahli?
3.      Apa sajakah faktor pendukung datangnya kebahagiaan seseorang?
4.      Apakah penghalang kebahagiaan seseorang?
5.      Bagaimana konsep kebahagiaan menurut ajaran agama Islam?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Makna Kebahagiaan
Bahagia dan sejahtera adalah relatif. Semua orang akan memberikan komentar yang tidak sama tentang konsep kebahagiaan itu sendiri, baik faktor kebahgiaan itu sendiri ataupun penyebab sebuah kebahgiaan. Bahagia dapat dikatakan oleh orang yang tidak menempati bahwa yang dilihat itu adalah tempat bahagia, atau dapat dikatakan dan dirasakan dalam bayangan kalau yang dideritanya hilang dari dirinya.
Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata yang lain, kebahagiaan melebihi hanya perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan amat berkait dengan sesuatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berkait dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua-dua perasaan ini adalah amat berkait dan juga amat subjektif. (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kebahagiaan)
Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti peredaran masa dan tempat. Orang yang kelihatan bahagia tidak semestinya bahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia tidak semestinya tidak bahagia. Cuma orang itu sendiri yang tahu (yaitu berasa) sama ada dia bahagia atau tidak.
B.     Makna kebahagiaan menurut para ahli
Definisi kebahagiaan menurut Puspoprojo adalah keinginan yang terpuaskan karena disadari memiliki sesuatu yang baik secara lebih spesifik ia memfokuskan pendapatnya pada konsep seseorang dapat merasa puas dan pasti mampu membatasi keinginan-keinginannya dengan membuat kompromi yang bijaksana. Tetapi, ada satu hal penting yang menurutnya perlu diberi perhatian khusus adalah bahwa kepuasan jasmani semata bukanlah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah keadaan subjektif yang menyebabkan seseorang merasa dalam dirinya ada kepuasan keinginannya dan menyadari dirinya memiliki sesuatu yang baik. Keadaan semacam itu hanya ada dalam sesuatu yang mampu merenungkan dirinya dan sadar akan dirinya, yaitu makhluk yang berakal budi.
Kebahagiaan tidaklah sama dengan kegembiraan atau kesenangan. Kebahagiaan adalah suatu keadaan yang berlangsung (a lasting condition) dan bukanlah suatu perasaan atau emosi yang berlalu. Secara umum boleh jadi seseorang merasa bahagia meskipun ia sedang menderita kesedihan, demikian pula seseorang yang mengalami ketidakbahagiaan yang kronis juga bisa mengenal saat-saat gembira. Juga kebahagiaan bukanlah suatu disposisi atau sikap jiwa yang riang gembira, meskipun tidak disangkal bahwa hal-hal tersebut bisa menolong ke arah kebahagiaan. Sebab sebagian orang dapat memiliki perilaku demikian meskipun dalam menghadapi kekecewaan.
Filsafat moral memandang kebahagiaan kodrati saja (natural happiness). Kebahagiaan kodrati adalah pemuasan segala hasrat yang termasuk dan muncul dari kodrat telanjang manusia (man’s bare nature).
1.      Aristoteles berpendapat bahwa kebahagiaan bukanlah suatu perolehan untuk manusia dan corak bahagia itu lain-lain dari berbagai ragam, menurut corak dan ragam orang yang mencarinya. Kadang-kadang sesuatu yang dipandang bahagia oleh seseorang, tidak demikian oleh orang lain, sebab kebahagian merupakan suatu kesenangan yang dicapai oleh setiap orang menurut kehendak masing-masing. Ia juga berpendapat bahwa bahagia itu bukan mempunyai arti dari satu kejadian, melainkan berlainan coraknya menurut tujuan masing-masing manusia. Bahagia adalah tujuan akhir tiap-tiap manusia. Pendapat Aristoteles tersebut akan semakin beda apabila dipadukan dengan pendapat Hendrik Ibsen, yang secara mendasar ia frustasi dan kecewa dengan realitas kebahagiaan.
2.      Hendrik berpendapat bahwa mencari kebahagiaan itu hanya menghabiskan umur, karena jalan untuk menempuhnya sangat tertutup. Setiap usaha untuk melangkah ke sana senantiasa memperoleh kecewa, karena mula-mula orang yang menujunya menyangka bahwa perjalanan telah dekat, tetapi secara nyata sangat jauh. Menurutnya, manusia belum pernah mencapai bahagia sebab setiap jalan yang ditempuh menjauhkan jalan manusia kepadanya.
3.      Leo Tolsyoy berargumen bahwa yang menjadi sebab manusia putus asa di dalam mencari kebahagiaaa ialah karena bahagia itu diambilnya untuk dirinya sendiri bukan untuk bersama. Padahal segala bahagia yang diborong untuk sendiri itu mustahil berhasil karena bahagia semacam itu selalu mengganggu kebahagiaan orang lain. Orang lain yang terganggu akhirnya responsif jika ia tersinggung dan berusaha mempertahankan diri oleh sebab itu bukan lagi menuntut bahagia memberi keuntungan, tetapi memberi kerugian bersama, pendapat Tolstoy ini mendapat pengakuan dari Bertrand Russel dan George Bernard Snaw.
4.      Louis O.Kattsoff mengkaji kebahagiaan dengan mengkorelasikan etika. Diawal kajiannya ia suatu ajaran yang mendasarkan diri pada suatu tujuan. Tujuan berupa keselamatan abadi dan suatu teori yang memberi titik berat pada kenikmatan atau kebahagiaan dikatakan bersifat hedonistik. Hedonisme adalah suatu teori yang mengatakan bahwa kenikmatan atau akibat-akibat nikmat dalam diri manusia sudah mengandung kebahagiaan.
C.    Faktor pendukung datangnya kebahagiaan
Di bawah ini merupakan beberapa faktor atau hal yang dapat menjadikan kebahagiaan seseorang. Bila beberapa hal di bawah ini dapat terpenuhi oleh manusia, maka dapat dikatakan ia akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.
1.      Berkesempatan dalam menuntut ilmu
Bila seseorang ingin mendapatkan apa yang ia cita-citakan maka  suatu hal yang harus ia usahakan adalah belajar dan mengetahui syarat-syarat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dan salah satunya adalah lewat jalur pendidikan. Dengan prestasi ia akan lebih mudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
2.      Berhasil membina keluarga
Mendapatkan keluarga yang bahagia adalah dambaan setiap orang. Oleh karena itu jika seseorang bisa membina keluarga dengan baik, mempunyai anak-anak yang sukses, shalih dan berbakti kepada orang tua adalah kebahgiaan tersendiri. Karena salah satu penolong orang tua ketika ia di akhirat adalah anak yang berbakti kepada orang tua.

D.    Penghalang datangnya kebahagiaan
Dari beberapa orang yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah merasakan dan mengeluh tentang penyebab tidak hadirnya suatu kebahagiaan yang sangat mereka harapkan dan diimpikan. Beberapa hal di bawah mungkin adalah penyebabnya, baik itu berasal dari keluarga, lingkungan masyarakat, lingkugan pendidikan dan teruatama adalah nikmatnya beribadah dengan Allah.
1.      Kemiskinan
Kemiskinan atau kefakiran adalah ketidakmampuan usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhannya sebagaimana layaknya kebanyakan orang yang tinggal di lingkungan tertentu dan pada saat tertentu pula. Kemiskinan adalah hal klasik yang menjadi masalah kenapa orang tidak bahagia dalam hidupnya.
Kemiskinan merupakan suatu keadaan yang paling tidak diinginkan oleh semua orang. Karena dengan keadaan tersebut orang menjadi serba tidak mampu memenuhi, atau sekedar memuaskan keinginan yang sangat ia dambakan. Walaupun sudah banyak orang yang percaya bahwa kehidupan yang kekal nanti adalah kehidupan akhirat akan tetapi semua orang juga percaya dan meyakini bahwa untuk  menggapai kebahagiaan akhirat juga diawali dengan kebahagiaan di dunia untuk menggapai akhirat.
2.      Perceraian
Mendapatkan dan memiliki keluarga yang langgeng, sakinnah mawaddah wa rahmah  adalah dambaan dari setiap manusia. Akan tetapi karena berbagai macam halangan dan cobaan yang dihadapi, kadang ada satu penyebab kenapa keluarga yang tadinya ia dambakan tidak terwujud, dan salah satu penyebab yang mungkin sering terjadi di kalangan masyarakat adalah perceraian. Hal itu jelas sangat mempengaruhi ketenangan seseorang dalam berumah tangga khususnya dalam membentuk keluarga.
3.      Kejahatan
Merupakan suatu luapan emosi seseorang atas ketidakpuasan atau pelampiasan rasa kesal dan kecewa terhadap suatu realita keadaan yang ia hadapi atau juga dapat diakibatkan oleh penderitaan hidup, tekanan batin, atau pelecehan dan penghinaan oleh sekelompok orang tertentu.
Dilihat dari kondisi pelakunya kejahatan dapat dipicu oleh dua faktor :
Pertama, kurangnya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Dia tidak bisa menerima hal ini dengan penuh hikmah. Oleh karena itu, dia tidak bahagia dengan apa yang dihadapinya saat ini
Kedua, karena ambisi negative yang membabi buta, ingin mendapatkan segalanya dengan instant dan cepat dan tidak perlu menunggu waktu lama dengan menghalalkan segala cara apapun itu.[1]

E.     Konsep Kebahagiaan dalam Islam
Pada uraian sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna bahagia dan jalan menempuh kebahagiaan dari berbagai sudut pandang. Dan sekarang akan dibahas lebih lanjut lagi konsep kebahagiaan yang diatur dan dijelaskan dalam ajaran agama Islam.
Dalam Islam, pusat segala kebahagiaan adalah saat seseorang bertemu dengan Sang Khaliq. Tentu bukan dengan makna bahwa seseorang harus mati terlebih dahulu untuk menggapai sebuah kebahagiaan, walaupun memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mati adalah ujung dari setiap perjalanan hidup manusia.
Kunci kebahagiaan umat Islam adalah takwa. Selama seseorang terus bertakwa, sesulit, sebesar apapun coabaan orang pasti akan merasa tenang dan bahagia karena ia telah yakin bahwa Rab-nya selalu ada di sisinya dan selalu siap memberikan bantuan kepadanya ketika ia menghadapi banyak cobaan dan musibah. Baik susah maupun senang ia selalu dekat dengan Rab-nya. Jadi ketenangan dan kebahagiaan adalah bersumber dari Rab-nya yaitu Allah swt.
Kebahagiaan dalam pandangan agama Islam bertumpu pada upaya untuk tidak kecewa dengan apapun yang diterima dari Allah. Sedikit atau banyak tetap disyukuri dan diterima sebagai yang terbaik menurut pilihan Allah swt, dengan kata lain orang harus bersifat qana’ah.
Qana’ah terdiri dari lima aspek yang terkait langsung dengan kehidupan manusia, antara lain:
1.      Menerima dengan rela apa yang diberikan Allah.
2.      Memohon kepada Allah tambahan yang pantas dan tetap berusaha.
3.      Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah
4.      Bertawakal kepada-Nya
5.      Tidak tertarik dengan tipu daya kesenangan dunia.
Kelima aspek diatas praktis mengarahkan kita kepada kebahagiaan. Dengan sikap qana’ah, seseorang akan silau dengan prestasi yang telah diraih oleh orang lain tetapi sibuk mengelola dan mengurus apa yang sudah diterimanya dan berusaha mensyukurinya. Demikian pentingnya sikap ini sehingga Rasulullah saw menganggapnya sebagai “harta” yang tidak akan hilang.
Rasulullah bersabda :
القناعة مال لاينفد وكنزلايفنى (رواه الطبرانى)
Artinya :
“Qana’ah adalah harta yang tidak akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap”
Diperjelas melalui sanad Ibnu Abbas ketika Rasulullah saw menemui para sahabat Anshar beliau bertanya “apakah kalian orang-orang mukmin?” lalu mereka pun diam, lalu Umar Ibnul Khathab berkata, “benar ya Rasulullah,” beliau bertanya lagi, “apakah tanda keimananmu?”, mereka berkata, “kami bersyukur menghadapi kelapangan, besabar menghadapi bencana, dan ridha dengan qadha (ketetapan Allah)
Oleh karena itu, sesuatu yang dapat melanggar dan melawan sunnatullah adalah jika seseorang menginginkan kebahagiaan tetapi tidak mengeluarkan keringat, bermalas-malasan, dan tidur sepanjang hari. Ketenangan tidak diraih dari sana, tetapi dari jiwa yang diisi dengan iman dan takwa dan menyikapi kehidupan ini secara tepat. Berkaitan dengan ini, Hitai’inah, seorang penyair membuat sepatah syair yang memiliki maka yang sangat mendalam yaitu
“Bukanlah kebahagiaan itu pada mengumpulkan harta,
Tetapi takwa kepada Allah itulah dia bahagia
Takwa kepada Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan.
Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan bagi orang yang bertakwa”[2]
Dalam suatu penggalan hadits juga disebutkan mengenai penjelasan yang lebih rinci mengenai makna dan hakikat bahagia yang sebenarnya :
وَاِنِ امْرُءٌ يُمْسِى وَيُصْبِحُ سَلِيمًا مِنَ النَاسِ اِلَّا مَا مَضَى لَسَعِيْدٌ
 (الحديث)
Artinya:
“jika petang dan pagi manusia telah mendapatkan aman dan sentosa dari gangguan manusia itulah dia orang yang bahagia”


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata yang lain, kebahagiaan melebihi hanya perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan amat berkait dengan sesuatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berkait dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua-dua perasaan ini adalah amat berkait dan juga amat subjektif
2.      Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti peredaran masa dan tempat. Orang yang kelihatan bahagia tidak semestinya bahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia tidak semestinya tidak bahagia.
3.      Kunci kebahagiaan umat Islam adalah takwa. Selama seseorang terus bertakwa, sesulit, sebesar apapun coabaan orang pasti akan merasa tenang dan bahagia karena ia telah yakin bahwa Rab-nya selalu ada di sisinya dan selalu siap memberikan bantuan kepadanya ketika ia menghadapi banyak cobaan dan musibah.















DAFTAR PUSTAKA

 Anwar Sanusi. Jalan Kebahagiaan. Gema Insani Press. Jakarta. 2006
 S. Ansory. Jalan Kebahagiaan Yang Diridhai. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta . 1997



[1] S. Ansory, jalan kebahagiaan yang diridhai. Hal-139
[2] Anwar Sanusi. Jalan Kebahagiaan. Hal-21

Islam dan Keindahan




BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kebudayaan merupakan sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau pendapat yang ada dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaaan itu bersifat dalam berbagai bentuk. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Berdasarkan wujudnya, budaya memiliki komponen dan elemen, salah satunya yaitu estetika atau keindahan. Keindahan ini akan selalu berlaku dan berkembang di dalam masyarakat. Seperti di Indonesia, setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan disampaikan dapat mencapai tujuan efektif.
Agama secara mendasar dan umum, dapat didefinisikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lainnya serta mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya. Dengan melihat masalah-masalah yang menjadi jangkauan agama, maka agama juga dapat diartikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasi dan memberi respon terhadap sesuatu yang dirasakan dan diyakini sebagai sesuatu yang gaib dan suci. Dengan ini dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut tidak akan lepas dari nilai estetika.

B.     Rumusan Masalah
Berdasaakan latar belakang di atas dapat disusun beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian keindahan ?
2.      Apa penyebab manusia menciptakan keindahan?
3.      Apa saja yang berhubungan dengan keindahan?
4.      Bagaimana keindahan dalam Islam?
5.      Apa saja asas-asas keindahan dalam Al-Qur’an?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar
2.      Menjawab rumusan masalah yang ada
3.      Sarana menambah wawasan bagi mahasiswa

D.    Manfaat Penulisan
Secara teoritis diharapkan dapat memberikan sumbangan atau masukan dan tambahan wawasan yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan mata kuliah khususnya pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.













BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Keindahan
Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indah), pemandangan alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, tatanan, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna, dan sebagainya. Kawasan keindahan bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial dan budaya. Karena itu dapat dikatakan bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia. Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Di mana pun kapan pun dan siapa saja dapat menikmati keindahan. [1]
Keindahan identik dengan kebenaran. Keduanya mempunyai nilai yang sama : abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Keindahan bersifat universal.
Sejak abad ke 18 pengertian keindahan telah digumuli oleh para filsuf. Keindahan dapat dibedakan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Menurut luasnya keindahan dibedakan atas tiga pengertian, yakni :
a.       Keindahan dalam arti luas
The Liang Gie menjelaskan bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristotelesmerumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
            Plotinus mengatakan tentang ilmu yang indah dan kebajikan yang indah. Orang Yunani berbicara pula mengenai buah pikiran yang indah dan adat kebiasaan yang indah. Tetapi bangsa Yunani juga mengenal pengertian keindahan dalam arti estetik  disebutnya “symmetria” untuk keindahan berdasarkan penglihatan (misalnya pada seni pahat arsitektur) dan “harmonia” untuk keindahan berdasarkan pendengaran (musik).
Jadi pengertian yang seluas-luasnya meliputi :
-           Keindahan seni
-           Keindahan alam
-           Keindahan moral
-           Keindahan intelektual

b.      Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
c.       Keindahan dalam arti yang terbatas mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.
Dari pembagian dan pembedaan di atas belum bisa menjawab secara jelas apakah sesungguhnya keindahan itu. Semua ini disebabkan adanya keberagaman jawaban. Salah satu jawaban ialah mencari ciri-ciri umum yang ada pada semua benda atau kualitas hakiki atau dengan pengertian keindahan. Jadi keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal. Kualitas yang paling sering disebut adalah kesatuan (unity), keseimbangan (balance), dan kebalikan (contrast).
Dari ciri itu dapat diambil kesimpulan, bahwa keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengamat.





2.      Sebab Manusia Menciptakan Keindahan
Keindahan itu pada dasarnya adalah alamiah, sedangkan alam adalah ciptaan Tuhan. Ini berarti bahwa keindahan adalah cipataan Tuhan. Alamiah memiliki arti wajar, tidak berlebihan tidak pula kurang.[2]
Menurut Al-Qur’an alam ini sepenuhnya milik Allah. Bahkan manusia merupakan bagian dari alam itu sendiri, karena ia diciptakan bermula dari apa yang ada di alam. Dalam Al-Qur’an Surat Al- Baqarah ayat 29 :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di dunia untuk kamu, dan Dia menghendaki (menciptakan) langit dan bumi, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

            Allah meciptakan alam (bumi dan langit) yang indah ini untuk manusia, untuk kemakmuran, kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Manusia menciptakan keindahan itu sebenarnya mencontoh keindahan alam yang dianugerahkan Tuhan kepada umatnya.

3.      Hal-hal yang Berhubungan dengan Keindahan
a.       Nilai Estetik
            Nilai estetik merupakan nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan. Dalam bidang filsafat, istilah ini sering dipakai suatu kata benda abstrak yang berarti keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness).
            Nilai digolongkan menjadi 2 yaitu nilai ekstrinsik dan nilai intrinsik. Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk hal lainnya, yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau pembantu. Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai tujuan ataupun demi kepentingan benda tersebut.
Contoh :
Puisi, bentuk puisi yang terdiri atas bahasa, diksi, baris sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik, sedangkan pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi disebut nilai intrinsik.[3]
b.      Renungan
            Renungan berasal dari kata renung, merenug artinya dengan diam-diam memkirkan sesuatu atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung.
            Renungan yang berhubungan dengan keindahan atau penciptaan keindahan didasarkan atas tiga macam teori, yaitu teori pengungkapan, teori metafisika, dan teori psikologis. Setiap teori itu memiliki tokoh. Dalam teori pengungkapan Benedetto Croce, mengatakan bahwa seni adalah pengungkapan kesan-kesan.
            Konsep keindahan adalah abstrak. Konsep itu baru dapat berkomunikasi setelah diberi bentuk. Seperti halnya Gesang, setelah ia bermain di Bengawan Solo ia merenung, ia menemukan konsep keindahan. Akan tetapi konsep keindahan barulah berkomunikasi setelah diberi bentuk, yaitu lagu Bengawan Solo yang terkenal itu.[4]
            Allah telah memberi dorongan kepada manusia ntuk memikirkan alam semesta, mengadakan keindahan ciptaan-Nya dan mengungkapkan hukum-Nya di alam semesta.[5]
c.       Keserasian
            Keserasian berasal dari kata serasi, dengan kata dasarnya adalah rasi yang artinya cocok, sesuai, atau kena benar. Kata cocok mengandung pengertian perpaduan, ukuran, dan seimbang. Perpaduan misalnya, orang yang berpakaian serasi antara kulit dan warna pakaiannya. Orang hitam yang memakai warna hijau, tentu makin hitam. Warna hijau pantas dipakai orang berkulit kuning.
            Keserasian tidak ada hubungan dengan kemewahan. Sebab keserasian merupakan perpadun antara warna, bentuk, dan ukuran. Keserasian merupakan pertentangan antara nada-nada tinggi-rendah, keras-lembut, dan panjang-pendek. Kadang-kadang kemewahan bisa menunjang keserasian, tetapi hal itu tidak selalu terjadi.
d.      Kehalusan
            Kehalusan berasal dari kata halus, artinya tidak kasar (perbuatan) lembut, sopan, baik (budi bahasa), beradab. Halus bagi manusia adalah sikap lembut dalam menghadapi orang lain. Lembut dalam kata-kata, lembut dalam roman muka, lembut dalam sikap anggota badan lainnya.
            Sikap halus atau lembut merupakan gambaran hati yang tulus serta cinta kasih terhaap sesama. Oleh sebab itu, orang yang bersikap halus atau lembut biasanya suka memperhatikan keperluan orang lain, dan suka menolong orang lain. Juga merupakan perwujudan dari sifat-sifat ramah, sopan, sederhana dalam pergaulan.
4.      Keindahan dalam Islam
            Imam al-Ghazali berkata : “kepunyaan Allah-lah keindahan, keagungan, dan kebesaran. Kesempurnaan dan kesucian tidak dapat disandangkan dan dibayangkan kecuali hanya untuk Allah sendiri, Yang Maha Esa, Yang Maha Benar, Yang Maha Memiliki Keluhuran dan Kemuliaan.
            Kesempurnaan hanyalah milik Allah sendiri, Yang Maha Suci dari kekurangan, cacat dan cela.
Yang indah secara mutlak hanyalah Dia Yang Maha Esa.
Yang tiada sekutu bagi-Nya
Yang tunggal, tiada yang menandingi-Nya
Tempat bergantung, tiada yang menentang-Nya
Yang Maha Kaya, Yang tiada berkeperluan
Yang menentukan hukum, tiada yang menolak hukum-Nya
Yang menetapkan keputusan, tiada yang dapat menggugat-Nya
Yang orang-orang arif, yang sempurna kearifan-Nya mengaku tak mampu mengetahiu-Nya
Yang puncak kenabian para Nabi, mengaku tak dapat mengifati-Nya, sebagaimana mestinya, katanya :
“Aku tak dapat  menghinggakan pujian untuk-Mu sebagaimana Engkau puji diri-Mu sendiri.”

            Yang dimaksud dengan keindahan (al-jamal), disini adalah kesempurnaan Ilahi. Kepunyaan-Nya lah keindahan dan kesempurnaan. Seluruh nama-Nya baik dan sifat-Nya sempurna.  Allah Maha Sempurna, mencintai orang yang berusaha untuk memperoleh kesempurnaan, dengan menghiasi diri dengan iman, bersolek dengan akhlakul karimah, berbekal dengan takwa, berdandan dengan taat, dan mencari keluhuran dengan tawadhu.
            Allah itu indah, dan di antara keindahan perbuatan-Nya ialah kasih sayang dan kelemahlembutan-Nya, karena Dia memberi tugas yang ringan, tetapi memberi pahal yang banyak, memberi tempo kepada orang-orang yang melanggar agar bertobat dan penyantun terhadap orang-orang yang berdosa. Firman-Nya :
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا
“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya” ( QS.Al-Fathir ayat 45)
5.      Asas-asas Keindahan dalam Al-Qur’an
Salah satu asas pemahaman keindahan dalam al-Quran, penekanan dalam tujuan; karena merupakan asas dari panggilan al-Quran yaitu hidayah (petunjuk) serta terpanggilnya objek kepada berita berita Ilahi dan maknawi. Kita tidak bisa mendefinisikan keindahan dan tujuan hanya dalam batasan batasan materi dan hanya karya seni. Sebagai contoh, kisah kisah dalam al-Quran adalah salah satu dari keindahan yang terkandung dalam ceritanya. Kandungan kisah ini terangkum agung dalam untaian untaian indah, maksud dari kisah ini bukanlah dari sisi tutur bahasa dan seninya atau karena judulnya indah dan menarik akan tetapi, maksud dan tujuan asli dari kisah ini adalah pemberian petunjuk untuk umat manusia dan penekanan terhadap kekuatan dan kuasa Allah yang tidak terbatas.[6]

1.      Keselarasan dan keseimbangan: Aturan penciptaan berasaskan rekonstruksi yang teliti dan teratur, kita dapat merrangkum  poin ini dalam ayat-ayat berikut,
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
 Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS.Al-Furqon ayat 2)

2.      Pengaturan yang tertib dan indah: Salah satu tanda-tanda yang penting adalah teratur tertib, dan tertata yang sedemikian rupa disebutkan dalam al-Quran pada ayat-ayat yang berbeda-beda,
مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ ۖ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ
Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, serta Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.(QS. Al-Thur ayat 20)

3.      Keragaman dan pertentangan: Dalam esensi keesaan hanya satu Hakim (Pengatur Yang Bijaksana) yang mengatur hamparan luas alam ini. Begitu juga keragaman aneka jenis yang menakjubkan adalah Sang Bijak yang terdapat dalam beberapa jenis seperti, benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, hewan da manusia serta terdapat pada:

 “Di atas bumi kita berpijak benda benda berdampingan satu sama lain, namun satu sama lain beda jenis misal dalam sebuah perkebunan terdapat: anggur, pertanian dan kurma (terdapat pohon-pohon buah yang beraneka ragam) yang mana terkadang tumbuh dalam satu batang terkadang pula tumbuh dalam dua batang (lebih mengherankan) dan mereka semua mengkomsumsi dari satu air. Walhasil, sebagian dari mereka dari sisi berbuah dari lainnya memberikan buah yang bagus dan ini semua (kejadian alam) untuk sekelompok orang yang berakal yang menggunakan akalnya.” (QS. Al-Zumar ayat 20).

4.      Beraneka ragamnya keindahan warna-warna: beberapa dari ayat-ayat al-Quran telah mengisyaratkan kepada aneka ragamnya warna-warna. Al-Quran mengingatkan kita bahwa warna hijau adalah warna surga yang melambangkan kenikmatan dan kesenangan. Allah Swt berfirman, 

”Mereka memakai pakaian sutera halus berwarna hijau dan sutera tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.” (QS. Al-Ra’d ayat 4).



























BAB III
KESIMPULAN

Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Menurut luasnya keindahan dibedakan atas tiga pengertian, yakni :
a.       Keindahan dalam arti luas
b.      Keindahan dalam arti estetik murni
c.       Keindahan dalam arti yang terbatas
            Sebab manusia menciptakan keindahan karena keindahan itu pada dasarnya adalah alamiah, sedangkan alam adalah ciptaan Tuhan. Ini berarti bahwa keindahan adalah cipataan Tuhan. Alamiah memiliki arti wajar, tidak berlebihan tidak pula kurang.
Hal-hal yang berhubungan dengan keindahan adalah nilai estetik, keserasian, kehalusan,dan renungan.
Asas-asas Keindahan dalam Al-Qur’an diantaranya :
Keselarasan dan keseimbangan, Pengaturan yang tertib dan indah, Keragaman dan pertentangan, Beraneka ragamnya keindahan warna-warna.













Daftar Pustaka

Widagdho, Djoko. 1988. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara

Mawardi, dkk. 2007.IAD-ISD-IBD. Bandung : CV Pustaka Setia






[1] Djoko Widagdho, dkk. Ilmu Budaya Dasar. (Jakarta : Bumi Aksara, 1988), hal. 60
[2] Drs. Mawardi-Ir. Nur Hidayati. IAD-ISD-IBD. (Bandung : CV Pustaka Setia, 2007), hal.160
[3] Ibid,. Hal. 159-160
[4] Ibid,. Hal. 164
[5] http://marcopangngewa.blogspot.com/2011/12/hubungan-manusia-dan-keindahan.html diakses pada hari Senin tanggal 1 April pukul 07:40
[6] http://islamquest.net/id/archive/question/fa13878 diakses pada hari Selasa tanggal 2 April 2013 pukul 13:40